Kunci Ketenangan Batin
Kamis, 15 Maret 2007, 21:55 WIB
“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan
(kesusahan)” (QS ath-Thalaq [65]:7)
Tidak ada penderitaan dalam hidup ini, kecuali orang yang membuat
dirinya sendiri menderita.Tidak ada kesulitan sebesar dan seberat apa pun di dunia ini, kecuali hasil dari
buah pikirannya sendiri. Terserah kita, mau dibawa ke mana kehidupan
ini. Mau dibawa sulit, niscaya segalanya akan menjadi sulit. Jika kita
memilih jalan ini, maka silahkan, persulit saja pikiran ini. Mau
dibawa rumit pastilah hidup ini akan senantiasa terasa rumit.
Perumitlah terus pikiran kita bila memang jalan ini yang paling
disukai. Toh, semua akan tampak hasilnya dan, tidak bisa tidak, hanya
kita sendiri yang harus merasakan dan menaggung akibatnya.
Akan tetapi, sekiranya kehidupan yang terasa sempit menghimpit hendak
dibuat menjadi lapang, segala yang tampak rumit berbelit hendaknya
dibuat menjadi sederhana, dan segala yang kelihatannya buram, kelabu,
bahkan pekat gulita, hendaknya dibuat menjadi bening dan terang
benderang, maka cobalah rasakan dampaknya.
Ternyata dunia ini tidak lagi tampak mengkerut, sempit menghimpit, dan
carut marut. Memandang kehidupan ini terasa seperti berdiri di puncak
menara lalu menatap langit biru nan luas membentang bertaburkan
bintang gemintang, dengan semburat cahaya rembulan yang lembut
menebar, menjadikan segalanya tampak lebih indah, lebih lapang, dan
amat mengesankan. Allahu Akbar!
Memang,
“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikit pun,
tetapi manusia itulah yang berbuat zalim terhadap diri mereka sendiri”
(QS Yunus [11]:44).
Padahal Dia telah tegas-tegas memberikan jaminan melalui firman-Nya,
“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan
(kesusahan)” (QS ath-Thalaq [65]:7).
Kendalikan Suasana Hati
Kuncinya ternyata terletak pada keterampilan kita dalam mengendalikan
suasana hati. Bagaimana caranya? Salah satu cara yang paling efektif
adalah, manakala berhubungan dengan sesama manusia, jangan sekali-kali
kita sibuk mengingat-ingat kata-katanya yang pernah terdengar
menyakitkan. Jangan pula kita sibuk membayangkan raut mukanya yang
sedang marah dan sinis, yang pernah dilakukannya di hari-hari yang
telah lalu.
Begitu hati dan pikiran kita mulai tergelincir ke dalam perasaan
seperti itu, cepat-cepatlah kendalikan. Segera, alihkan suasana hati
ini dengan cara mengenang segala kebaikan yang pernah dilakukannya
terhadap kita, sekecil apa pun. Ingat-ingatlah ketika ia pernah
tersenyum kepada kita. Kenaglah jabat tangannya yang begitu tulus atau
rangkulannya yang begitu penuh persahabatan. Atau, bukankah tempo hari
ia pernah menawarkan untuk
mengantarkan kita pulang dengan motornya ketika kita tengah berdiri
meninggu bis kota?
Pendek kata, ingat-ingatlah hanya hal-hal yang baik-baiknya saja, yang
dulu pernah ia lakukan, seraya memupus sama sekali dari memori pikiran
kita segala keburukan yang mungkin pernah ia perbuat.
Allah Azza wa Jalla sungguh Maha Kuasa membolak-balikkan hati
hamba-hamba-Nya. Kita akan kaget sendiri ketika mendapati hasilnya.
Betapa cepatnya hal ini berubah justru sesudah kita berjuang untuk
mengubah segala sesuatu yang buruk menjadi tampak baik.
Bertambah dewasa ternyata tidak cukup hanya dengan bertambahnya umur,
ilmu, ataupun pangkat dan kedudukan. Kita bertambah dewasa justru
ketika mampu mengenali hati dan mengendalikannya dengan baik. Inilah
sesungguhnya kunci bagi terkuaknya ketenangan batin.
Suatu ketika kita dilanda asmara, misalnya. Kalaulah tidak pernah mau
bertanya kepada diri sendiri, maka akan habislah kita diterjang oleh
gelinjang hawa nafsu. Demikian juga kalau kita sedang diliputi gejolak
amarah. Sekiranya tidak pernah mau mengendalikan hati, akan celakalah
kita dibuatnya karena akan menjadi orang yang berlaku aniaya terhadap
orang lain.
Oleh sebab itu, kita harus benar-benar memiliki waktu dan kesungguhan
untuk bisa memperhatikan segala gerak-gerik dan perilaku hati ini.
Jangan-jangan kita sudah tergelincir menjadi sombong tanpa kita
sadari. Jangan-jangan kita sudah memusnahkan pahala amal-amal yang
pernah dilakukan tanpa kita sadari. Jangan-jangan kita sudah termasuk
orang yang gemar berlaku zalim terhadap orang lain tanpa kita sadari.
Apabila ini terjadi, maka apalagi kekayaan yang bisa menjadi bekal
kepulangan kita ke akhirat nanti? Bukankah segala amal yang kita
perbuat itu-adakah ia tergolong amal salih atau amal salah-justru
tergantung pada kalbu ini?
Kita pergi berjuang, berperang melawan keangkaramurkaan, berkuah peluh
bersimbah darah. Tetapi, sepanjang bertempur hati menjadi riya, ingin
dipuji dan disebut pahlawan;tidakkah disadari bahwa amalan seperti ini
di sisi Allah kering nilainya, tidak ada harganya sama sekali?
Menjadi mubaligh, berceramah menyampaikan ajaran Islam. Didengar oleh
ratusan bahkan ribuan orang. Pergi jauh ke berbagai tempat,
menghabiskan sekian banyak waktu dan menguras tenaga serta pikiran.
Namun, sama sekali tidak akan ada harganya di sisi Allah kalau hati
tidak ikhlas. Sekadar ingin dipuji dan dihormati, sehingga merasa diri
paling mulia, atau bahkan lebih fatal lagi, karena motivasi sekadar
untuk mendapat imbalan.
Berangkat haji, memakan waktu berpuluh hari dan menempuh jarak beribu
kilometer. Tubuh pun terpanggang matahari yang membakar dan
berdesak-desakan dengan berjuta-juta manusia. Tetapi, kalau tidak
disertai niat karena Allah, sekadar ingin dipuji karena mendapat
embel-embel titel haji, maka na’udzubillah, semua ini sama sekali
tidak berharga di sisi Allah.
Mengapa pekerjaan yang telah ditebus dengan pengorbanan sedemikian
besar malah membuahkan kesia-siaan? Ternyata sebab-musababnnya
berpangkal pada kelalaian dan ketidakmampuan mengendalikan suasana
hati. Sebab, sekali seseorang beramal disertai riya, ujub, atau sum’ah
(sekadar mencari popularitas) , maka tidak bisa tidak, pikirannya
hanya akan disibukkan oleh persoalan tentang bagaimana caranya agar
manusia datang memujinya. Begitu pujian itu tidak datang, sertamerta
hati pun dilanda sengsara. Bila sudah begini, kapankah lagi dapat
diperoleh ketentraman hidup, selain sebaliknya, hari-harinya akan
senantiasa digelayuti perasaan resah, gelisah, kecewa, dan sengsara?
Niat yang Ikhlas
Oleh karena itu, sekiranya kita belum mampu melakukan amal-amal yang
besar, tidakkah lebih baik memelihara amal-amal yang mungkin tampak
kecil dan sepele dengan cara terus-menerus menyempurnakan dan
memelihara niat agar senantiasa ikhlas dan benar? Inilah yang justru
akan dapat membuahkan ketenangan batin, sehingga insya Allah akan
membuahkan pula suasana kehidupan yang sejuk, lapang, indah dan
mengesankan.
Mudah-mudahan dengan kesanggupan kita menyempurnakan dan memelihara
keikhlasan niat di hati tatkala mengerjakan amal-amal yang kecil
tersebut, suatu saat Allah Azza wa Jalla berkenan mengkaruniakan
kesanggupan untuk mampu ikhlas manakala datang masanya kita harus
mengerjakan amal-amal yang lebih besar.
Besar atau kecil suatu amalan yang dikerjakan dalam hidup ini,
sekiranya didasari hati yang ikhlas seraya diiringi niat dan cara yang
benar, niscaya akan melahirkan sikap ihsan. Yakni, kita akan selalu
merasakan kehadiran Allah dalam setiap gerak-gerik, sehingga dalam
setiap denyut nadi ini, kita akan selalu teringat kepada-Nya.
Inilah suatu kondisi yang akan membuat hati selalu merasakan kesejukan
dan ketentraman.
“Alaa bi dzikrillaahii tathma ‘inul qulub” (QS ar-Ra’d[13]: 28),
demikian Allah telah memberikan jaminan. Ingat, hanya dengan mengingat
Allah-lah hati menjadi tentram!
Demi Allah tidak ada pilihan lain. Kita harus senantiasa mewaspadai
hati ini. Jangan sampai diam-diam membinasakan diri justru tanpa kita
sadari. Sudah pahala yang didapat sedikit, hati pun tak bisa
terkendalikan, sehingga semakin rusaklah nilai amal-amal kita dari
waktu ke waktu. Na’udzubillaah!
Dengan demikian, selain kita terbiasa mandi untuk membersihkan jasad
lahir, kita pun harus memiliki kesibukan untuk “memandikan” hati ini.
Selain kita makan untuk mengenyangkan perut, kita pun harus
“menyantap” sesuatu yang dapat membuat hati ini terisi. Selain kita
berdandan untuk merapikan penampilan, kita pun harus sibuk “bersolek”
merapikan hati kita. Dan selain kita rajin becermin untuk memperelok
wajah, kita pun jangan lupa untuk rajin-rajin pula “becermin” untuk
memperelok hati.
Semua ini tiada lain agar kita memiliki kemampuan untuk senatiasa
menyelisik niat maupun perilaku buruk dan busuk yang, disadari ataupun
tidak, mungkin pernah kita perbuat. Itu akan lebih menolong daripada
kita sibuk mengintip-intip keburukan orang lain, yang berarti hanya
menipu diri sendiri belaka dan sama sekali tidak akan mendatangkan
ketenangan batin. Wallahu a’lam![]
(Nawwira Kifliyah; Sumber : Buku Meredam Gelisah Hati, MQS. )
http://www.percikan-iman.com/modules.php?name=Artikelpilihan&op=detail_artikelpilihan&id=292
Agustus 30, 2007 at 15:16
assalamu’alaiku wr.wb
saya amat berterima kasih kepada anda yang telah menulis sebuah ilmu yang sangat besar manfaatnya bagi orang yang telah membaca ilmu tersbut dan bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari hari.
saya ingin bertanya “bagaimana cara menghadapi orang yang tidak menyukai kita ?” dan bagaimana cara menghadapi orang yang mudah marah ?
tolong balas ke e-mail saya.
mudah mudahan allah swt senantiasa selalu memberikan hidayah kepada anda dan kita semua.
wassalam
irfan
Juli 25, 2008 at 14:37
assalamualaikum.
Saya sedang menghadapi proses adaptasi utk menjadikan diri ini lebih dewasa. Saya hanya bisa berd0a untuk di berikan ampunan dan kekuatan hati dari Allah.
Thanx ya. .
Tulisan ini membuat saya tmbah yakin.
Juli 25, 2008 at 15:15
saya ada pertanyaan nich. .
Saya anak k0st dan jauh dr orang tua.
Suatu hari,
Teman satu k0s saya membentuk suatu perkumpuLan atau bisa jg disebut GANK. Saya tidak menyukai mereka, karna tingkah laku n perbuatan mereka kadang sangat dan amat menentang Allah.
Yang mereka pikirkan hanya kenikmatan dunia. Sedangkan suatu hari, khususnya sekarang2 ini, saya merasa klo mereka tdk menyukai saya. Entah karna saya yg tdk pernah mau ikut nimbrung dan berbaur dg mereka? Padahal saya tetap baik dan menegur mereka. Suatu hari, saya merasa di tusuk dari belakang. Sepertinya mereka telah membenci saya. Tapi saya tetap tenang dan masih bisa berlaku baik dg mereka.
PertanyaAn saya:
1. Apa saya salah karna tidak mau ikut di setiap mereka ngumpul?
2. Apa saya salah karna tidak mau menunjukan ketertarikan saya pada kelompok mereka?
3. Apa yg harus saya perbuat jika mereka menjelek jelekan atau berburuk sangka pd saya?
Mohon balasannya ya.
Saya sgt membutuhkannya skrg.
Kirim aja ke email saya :
Ndamyutz@yahoo.com
Ok. Tengkyu.
WasS.
April 28, 2009 at 14:00
makasih…jadi sedikit mengerti gmana mengendalikan amarah.tapi masih ada yang bingung.
saya sudah punya tunanagan, tapi saya merasa makin tidak cocok dengan dia karena setiap hari betengkar..apa yang harus dilakukan yang ada di pikiran saya cuma ingin putus. sedangkan qta sudah bertunangan.dan 3 bulan lagi akan menikah.
mohon balasannya ke nixie86@gmail.com
makasih
Desember 5, 2009 at 06:14
YA COBA TERUS MINTA PETUNJUK ALLAH MELALUI SHALAT MALAM DAN COBA CARI SISI BAIKNYA , DAN JANGAN LUPA ANDA MENETRALKAN / MENENTRAMKAN SUASANA HATI ANDA SENDIRI.
BIASANYA UNTUK HAL YANG BAIK BANYAK SEKALI COBAAN
Oktober 16, 2009 at 00:07
bagaimana sbnarnya cara agar kita bisa mgkihlaskan ssuatu yang kita cintai tlah hilang dari kita?
aku bnar2 jatuh karna itu
Desember 5, 2009 at 06:18
YA KITA COBA MERENUNG KEMBALI KE BELAKANG. KITA LAHIR MEMBAWA APA , YANG HANYA KITA BAWA ADALAH KEHIDUPAN KITA , BARANG YANG KITA DAPATKAN ADALAH SETELAH KITA LAHIR. JADI BELAKANG DAPATNYA .
KITA HARUS MENSUKURI BARU SATU YANG HILANG , BANYAK BARANG LAIN YANG MASIH ADA YANG MEMBUTUHKAN PERAWATAN KITA . KITA KEMBALIKAN KEPADA YANG MAHA KUASA ALLAH SWT
November 16, 2009 at 09:45
terimakasih atas pencerahanya. minta izin utk mengcopy
November 22, 2009 at 16:52
assalamu’alaikum……..
saya ingin bertanya sesuatu, saya mempunyai masalah dalam mempertahankan ketenangan batin yang sudah di dapatkan. .
padahal saya sudah mengetahui, bagaimana hidup ini harus di jalani agar batin bisa tenang.. tapi cepat sekali goyah perasaan yang sudah di dapat itu…
harap petunjuknya.
November 23, 2009 at 17:53
aslmmualaikum…
saya ingin bertanya, sebenarnya ingin mencari cara/ jalan keluar dari masalah sy.saat ini sy tidak betah dan merasa tertekan lahir batin di tempat sy bekerja,dikarenakan banyak hal yg sy tidak bisa sampaikan diforum ini, tetapi sy tidak bisa keluar, karena sy sangat membutuhkan gaji di tempat ini untuk menopang sy dan keluarga sy. bagaimana cara nya supaya sy jd betah untuk bekerja disini?, atau apakah sy harus mengikuti kata hati sy untuk keluar dr tempat sy bekerja????
mohon di bantu menemukan jalan keluarnya. terima kasih . wasallam.
Desember 5, 2009 at 06:12
ya benar sekali , gara suasana hati gak stabil alias tenang , maka pikiran juga gak tenang , begitu juga pikiran gak tenang menghasilkan suasana hati yang gak tenang juga .
dua proses yang saling timbal balik perlu dijaga agar tidak saling bertentangan.
Hati dan Pikiran perlu di Rawat setiap detik untuk menghasilkan Ketenangan
Hati melalui berkomunikasi dengan Allah(HABLUM MINALLLAH) sedang Pikiran melalui Komunikasi yang baik dengan Manusia (HABLUM MINNNANNAS)
Desember 5, 2009 at 06:23
“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan
(kesusahan)” (QS ath-Thalaq [65]:7)
“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikit pun,
tetapi manusia itulah yang berbuat zalim terhadap diri mereka sendiri”
(QS Yunus [11]:44).
Padahal Dia telah tegas-tegas memberikan jaminan melalui firman-Nya,
“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan
(kesusahan)” (QS ath-Thalaq [65]:7).
Inilah suatu kondisi yang akan membuat hati selalu merasakan kesejukan
dan ketentraman.
“Alaa bi dzikrillaahii tathma ‘inul qulub” (QS ar-Ra’d[13]: 28),
demikian Allah telah memberikan jaminan. Ingat, hanya dengan mengingat
Allah-lah hati menjadi tentram